Home » » Bondage game bersama Lia - 1

Bondage game bersama Lia - 1

Aku mempunyai teman seorang wanita yang mempunyai masalah keluarga. Lia namanya. Dia baru saja bercerai dengan suaminya. Dia cantik, tinggi semampai, langsing dan berumur sekitar 35 tahun. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Mungkin karena kesibukan kita masing-masing. Lia bekerja sebagai sekretaris pada sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Suatu hari aku sedang berjalan-jalan di sebuah mall di wilayah Jakarta Selatan dan kulihat seorang wanita yang mukanya sangat familiar, sedang window shopping di sebuah departeman store. Setelah kuingat-ingat, kusadari bahwa wanita tersebut tak lain adalah Lia. Tanpa menunggu lama, kuhampiri wanita itu dan kusapa.

"Halo, apa kabar Lia?"
"Hei, kamu. Apa kabarnya juga? Sama siapa kamu disini?" jawabnya.
"Sendiri, lagi lihat-lihat apa? Sudah lama sekali ya nggak ketemu. Makin cantik aja sih kamu. Kudengar tentang perceraian mu, maaf ya" lanjutku menyapanya.
Lia lalu berkata, "Terima kasih. Kamu mau kemana? Kalau nggak ada acara dan nggak sibuk, mau temani aku nggak makan siang sambil ngobrol-ngobrol".

Kebetulan aku sedang lapar dan ingin juga ngomong-ngomong dengannya.

"Mau, aku nggak ada kegiatan kok. Pengin makan apa dan dimana?" tanyaku.
"Apa kamu ada ide?" ia balik bertanya.
"Terserah kamu aja deh" kataku.

Kemudian kami berdua mencari sebuah cafe yang tidak terlalu ramai.

"Sudah lama banget ya nggak kongko-kongko, kemana saja sih kamu? Sombong ya" katanya setelah kami berdua duduk di restauran itu.

Kami lalu berbincang-bincang tentang masa lalu dan juga berbagi pengalaman tentang pekerjaan diselingi gosip-gosip masa kini. Kamipun lalu memesan makanan. Pembicaraan diteruskan sambil kami menyatap makan siang. Setelah menghabiskan makanan utama, lalu aku memesan kopi dan Lia minta ice cream. Dia lalu berkata padaku ingin curhat tentang masalahnya. Aku sampaikan silahkan saja dan akan kucoba menjadi pendengar yang baik. Dia mengatakan betapa kesalnya dia terhadap lelaki terutama terhadap bekas suaminya pada saat ini. Laki-laki di matanya semuanya brengsek dan dia ingin dapat melampiaskan kekesalannya itu, namun tidak tahu bagaimana. Aku berusaha menghibur dan mengatakan tidak semua lelaki brengsek dan masalah yang dia hadapi adalah cobaan. Aku minta dia untuk bersabar dan tabah dalam menghadapi cobaan ini.

Mendengar dia mengatakan tentang ingin melakukan sesuatu untuk dapat melampiaskan kekesalannya terhadap lelaki, aku tanyakan apa kiranya yang ada di pikirannya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan aku tersebut. Mungkin dia memang tidak tahu atau tidak ingin memberitahukan. Kemudian aku menanyakan padanya tentang suatu fantasi yang dikenal dengan "bondage". Dia lalu bertanya.
"Apa sih itu?"
Lalu kujelaskan, "Bondage adalah suatu permainan dimana satu pihak menjadi Submissive dan pihak lainnya menjadi dominan. Si submissive akan di ikat oleh dominan dan setelah terikat di dominan bisa mempermainkan dan/atau mengolok-olok si submissive yang sudah terikat. Si dominan bisa melakukan berbagi macam bentuk ikatan dari posisi hogtie, frogtie, di ikat di kursi, di meja atau di kasur dan sebagainya"
"Auh aneh sekali ya, tapi kok menarik" sapa Lia.
Dia lalu bertanya, "Siapa yang akan menjadi submissive dan siapa yang menjadi dominan?".
Kujawab, "Karena kamu yang lagi punya masalah dan sedang kesal terhadap lelaki, bagaimana kalau aku menawarkan diri untuk menjadi submissive dan kamu yang menjadi dominan?".

Aku memang selalu senang dan bergairah jika diikat oleh wanita.

Tanpa pikir panjang Lia langsung menjawab, "Aku setuju. Akan kuikat kamu sekuat-kuatnya".
Selanjutnya dia bertanya, "Bagaimana kalau kita sekarang pulang ke rumahku dan melakukannya?".
Kujawab, "Sabar dulu dong, kan kamu perlu persiapan. Apa kamu sudah punya tali dan peralatan-peralatan lainnya?".
Lia pun lalu menjawab, "Aku punya banyak selendang yang bisa kupakai untuk mengikat kamu"
Aku jawab, "Bisa saja kamu pakai selendang-seledang itu tapi kan kamu mungkin mau juga mengikatku dengan tali. Aku senang lho diikat dengan tali-tali yang panjang dan banyak" sapaku menjawabnya.

Kulihat kekecewaan di paras mukanya mendengar jawabanku.

"Siapkan dulu alat-alatnya dan setelah itu hubungi aku, ok!" pintaku.
Di jawabnya, "Ok deh kalau begitu maumu. Besok aku akan beli tali yang banyak dan akan kuminta yang panjang-panjang. Selain tali apa lagi yang aku harus beli?"
Kujawab, "Pikirin sendiri dong kan kamu yang mau mengikatku. Coba browsing di internet di situs-situs bondage dan disitu nanti kamu akan dapat inspirasi, cara dan teknik mengikat serta alat-alat apa saja yang bisa kamu pakai dalam permainan ini."

Kuberikan nomor HPku dan begitu juga Lia memberikanku nomornya.

Lia lalu berkata, "Akan kuikat kamu sekuat-kuatnya sehingga tidak bisa lepas dan kamu aku ikat tidak sebentar, nggak cuma 1 atau 2 jam lho."
Kujawab, "Ok, aku tunggu ya." Aku pun memberikannya beberapa situs di internet tentang bondage. Kami pun lalu berpisah.

Keesokkan harinya HP ku berdering dan tertera di layar telpon nama Lia.

"Halo, apa kabar" sapuku membuka pembicaraan.
"Aku lagi bergairah nih sekarang mau melakukan sesuatu untuk permainan yang kita bicarakan kemarin." jawabnya.
Lalu Lia pun bertanya, "Apakah kamu ada waktu menemaniku pergi belanja ke suatu tempat?".
Aku katakan, "Ada, bagaimana kalau kamu jemput aku di kantor jam 3 sore?".
Lia pun lalu menjawab, "Ok, kalau begitu aku akan ke kantor kamu."
Waktu saat itu jam 1.30 siang.
"Kalau begitu aku sekarang kesana ya?" katanya.
"Ok, aku tunggu."

Setelah telpon kututup aku berpikir mau beli apa sih Lia sampai minta aku menemainya. Sebelum jam 3 Lia sudah datang menjemputku di kantor.

Kutanya, "Mau belanja apa sih kamu dan kenapa kok pakai minta ditemani kau segala?"
Dijawabnya, "Ada deh, nanti kamu juga akan tahu"

Baru aku sadari bahwa yang di maksud dengan belanja olehnya bukanlah belanja bahan-bahan makanan tapi dia mau beli alat-alat yang di perlukan untuk permainan itu. Aku pun kemudian menunjukkan suatu tempat ke Lia di mana kita dapat membeli tali temali. Kami pun kemudian berhenti di ACE HARDWARE dan kemudian kami masuk ke dalam toko dan langsung menuju ke tempat di mana tali-tali yang di jual. Aku tunjukkan pada Lia tentang tali-tali yang lembut namun kuat yang biasa dipakai dalam permainan ini. Setelah kami setuju dengan tipe tali yang akan digunakan, kami pun meminta kepada petugas di sana untuk memotong tali-tali itu menjadi beberapa utas dengan panjang yang berbeda-beda, dari mulai 4 meter sampai 15 meter. Tak ku sangka Lia membeli cukup banyak tali-tali tersebut. Aku tanyakan padanya.

"Buat apa tali sebanyak itu?"
Di jawabnya, "Kan kemarin kamu bilang mau diikat dengan banyak tali. Mungkin banyaknya versi kamu beda dengan yang saya punya."

Setelah selesai membayar, Lia kemudian mengantarkan aku kembali kekantor. Dalam perjalanan pulang Lia mengusulkan bagaimana kalau permainan bondage ini dilakukan sehabis aku pulang kantor. Karena kesibukanku dengan pekerjaan kuusulkan besok saja. Kebetulan besok hari Sabtu dan aku tidak bekerja. Lia pun setuju dan mengatakan.

"Aku sudah nggak sabar lho nunggu besok."

Aku hanya tersenyum. Kamipun sampai kembali dikantorku dan kemudian kita berpisah. Sebelum berpisah Lia berkata.

"Aku masih perlu beli tambahan peralatan lainnya dan akan kupersiapkan semuanya hari ini supaya besok pagi sudah siap."
Aku bertanya, "Besok pagi, jam berapa? Jangan pagi-pagi ya kan aku mau bangun agak siangan."
Tanpa perduli dengan apa yang baru kukatakan, Lia pun lalu berkata, "Sampai besok pagi"

Hari Sabtu jam 7 pagi aku terbangun oleh suara dering telpon HP. Terlihat di layar "Lia". Aku lalu berpikir mungkin Lia mau mengganti hari dan jam yang telah dia katakan kepada aku kemarin.

"Halo" sapaku.
"Halo, baru bangun ya" sapanya.
Aku jawab, "Ya, ada apa? nggak jadi ya hari ini jam 9?"
Dia pun lalu berkata, "Iya, nggak jadi jam 9, tapi jam 8 pagi. Aku sudah nggak sabar nunggu dan semalaman aku nggak bisa tidur mikirin kamu. Aku juga sudah browsing internet ke situs-situs bondage dan aku rasa aku sudah mampu dan yakin bisa melakukan permainan ini."
Lia pun melanjutkan, "Sekarang aku berangkat jemput kamu ke rumah ya. Cepat mandi karena aku tidak mau menunggu lama-lama. Jangan lupa makan pagi supaya kamu tidak kelaparan."

Tanpa sempat aku mengatakan sesuatu, Lia pun lalu menutup telponnya. Kubutuhkan waktu 15 menit seteleh telpon ditutup untuk mandi, berganti pakaian dan sarapan pagi. Jam 7.30 HP ku kembali berdering dan terdengar.

"Aku sudah di depan rumahmu, ayo cepat keluar."

Aku pun kemudian bergegas keluar rumah dan masuk ke mobilnya. Di ciumnya kedua pipiku olehnya dan mengatakan.

"Selamat pagi. Sudah siap mental untuk aku jadikan lampiasan kekesalan ku terhadap lelaki?".
Kujawab "Siapa takut!"

Dibutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk sampai ke suatu tempat dimana permainan ini akan di lakukan. Sebelum kami sampai di tempat tersebut, Lia mengatakan sesuatu.

"Untuk menjaga kerahasian tempat ini, dengan terpaksa aku harus menutup matamu."

Mobil pun lalu di hentikan di pinggir jalan dan Lia lalu mengambil bandana yang ia tempatkan di laci mobil dan lalu memakaikannya di mata aku. Di lilitkanya bandana tersebut sekuat-kuatnya dan diputar-putar beberapa kali di kepalaku. Kurasakan lilitan yang sangat kuatnya dan sekarang aku tidak bisa melihat apa-apa kecuali kegelapan di pagi hari. Pada akhir lilitan bandan tersebut, ditaruhnya pin agar ujung bandana tidak terlepas. Tidak puas dengan itu, diambilnya lakban dan di putar-putarkan di atas bandana beberapa kali untuk menyakinkan agar tidak terlepas.

Setelah selesai dengan bandana, Lia lalu memakaikan kacamata hitam agar tidak menimbulkan ke curigaan dari luar. Untungnya mobilnya memakai kaca film yang sangat gelap. Sebelum mobil di jalankan kembali, Lia memakaikan borgol di kedua tanganku yang di letakkan ke belakang badan. Dia lalu berkata.

"Permainan belum di mulai ya, ini hanya tindakan preventif aja agar kerahasian tempat permainan tetap terjaga."
Aku katakan, "Ok, aku ngerti. Bandananya kuat sih, longgarin sedikit dong!"
Dia menjawab, "Ah kamu sexi sekali sih terlihat begitu. Kalau begini saja sudah membuatku bergairah, apalagi nanti kalau kamu sudah terikat?" Kudengar suaranya yang mengejekku ketika dia menjawab.

Jam 7.45 kami sampai di tempat yang dituju. Pintu pagar lalu dibuka pembantunya dan mobil langsung menuju ke garasi. Lia keluar mobil dan lalu berkata ke pembantunya untuk membelikan beberapa makanan di pasar.

Bersambung . . . . .

0 comments:

Post a Comment