Home » » Sensasi erotik saat menjadi waria - 3

Sensasi erotik saat menjadi waria - 3

Kemudian Pak Abi datang dari depan, dia juga sudah setengah telanjang. Kontolnya nampak besar sekali, membayang dari celana dalamnya. Dia langsung meraih selangkanganku, meremas kontolku yang juga sudah ngaceng. Dia melepaskan kancing dan resluiting celana pendekku, diangkatnya kakiku bergantian untuk mengeluarkan celanaku dan melemparnya ke kursi di ruangan itu. Dan tanpa membuka celana dalamku terlebih dulu, Pak Abi langsung membenamkan wajahnya ke selangkanganku, menggigit pangkal pahaku, kemudian menggigit gundukan kontolku. Selanjutnya tangannya merogoh serta membetot kontolku dari pinggiran celana dalamku.

Ternyata pada malam itu, selama hampir 4 jam mereka berdua mengeroyokku. Dengan penuh nafsu birahi, dan dengan penuh semangat, mereka memuja kecantikan serta sensualitas tubuhku. Mereka bersama-sama menggarapku. Semua permukaan kulitku dirambahnya, semua lubang-lubang kumiliki dirambahnya, ditembusnya. Kontol-kontol mereka yang berukuran di atas 18 cm, dengan warna hitam dan penuh kilapan saat ngaceng, benar-benar memberiku kepuasan seksual tak terhingga.

Sperma mereka secara beruntun mengisi lubang pantatku, dan juga mulutku. Entah sudah berapa mililiter sperma Pak Adop dan Pak Abi membasahi tenggorokanku untuk menghilangkan kehausanku. Kontol-kontol hebat itu menggenjot analku hingga serasa robek-robek, sangat pedih dan sangat pedas. Dalam kesempatan itu, aku sama sekali tidak diberikan peluang untuk aktif. Merekalah pemegang komandonya, sementara aku hanya menerima kenikmatan yang tiada taranya dari mereka. Kontol-kontol mereka memenuhi mulutku, memancarkan sperma hangat ke langit-langit rongga mulutku. Sperma orang-orang hitam entah dari Irian atau Ambon yang kurasakan sedemikian nikmatnya, seakan aku meminum air nira sagu dari tempat asal mereka.

Setelah masing-masing menyemprot mulutku dengan spermanya 2 kali, dan sekali ke lubang duburku, pada pukul 1 dini hari aku dikembalikan ke Jalan Irian Barat. Nampak Bella dan teman-temannya juga sudah berada di situ. Sebelum aku turun dari mobil, Pak Adop menyerahkan lembaran-lembaran ratusan ribu rupiah untukku. Sebenarnya aku tidak memintanya, dan aku memang tidak akan pernah memintanya, karena saat-saat seperti ini bagiku merupakan saat untuk mengekspresikan diri sebagai waria seutuhnya, bukan untuk uang. Tetapi mereka, Pak Adop maupun Pak Abi berpikir lain. Dia merasa wajib membayar atas semua kenikmatan yang telah diraihnya dari tubuhku.

Malam itu, Pak Abi maupun Pak Adop, seperti halnya Koh Abong kemarin, nampak sangat memuja tubuhku, sangat terpesona pada sensualitas yang memancar dari penampilanku, dan itu nampak dari bercak-bercak cupang mereka berdua yang bertebaran di lengan, perut, punggung, paha maupun betisku. Uuuhh.., sungguh pemandangan yang sangat erotis, karena cupang itu selalu muncul dari dorongan birahi yang tinggi para pembuatnya.

Aku tidak menghitung lagi berapa jumlah uang yang diberikan Pak Adop dan Pak Abi padaku. Gepokan uang dalam genggaman itu langsung kuserahkan pada Bella dan Angel.
'Nih.., bagi ke teman-teman..', dan langsung mereka terima dengan senang hati.
Bella menginformasikan padaku, uang sebanyak 800 ribu rupiah dariku itu, setengahnya dimasukkan ke kas organisasi waria Jalan Irian Barat itu. Setengah sisanya lagi mereka pakai untuk makan-minum di warung pinggir jalan setempat. Bella memintaku ikut bersama-sama minum, tetapi aku meminta maaf tidak dapat berpartisipasi, karena aku harus sampai di hotelku sebelum pukul 3 pagi. Mereka dapat memahamiku.

Pukul 8 pagi esoknya, aku sudah duduk di Bumi Hyatt untuk sarapan. Ini adalah merupakan hari terakhir tugasku di Surabaya. Besok pagi aku sudah harus masuk kantor pusat di Jakarta. Sementara itu aku masih ingin menikmati penampilanku sebagai Lisa Ramon di Jalan Irian Barat itu. Akhirnya kuputuskan untuk membeli tiket Garuda saja. Kalau aku bertolak dari airport besok pukul 8 pagi, maka aku akan sudah berada di kantor pada pukul 10 pagi itu. Malam ini Lisa Ramon akan kembali menikmati peranannya di Jalan Irian Barat.

Aku bergegas ke kantor cabang, kepada Pak Hendro kusampaikan bahwa setelah aku memeriksa semua catatan pembukuan yang ada, tak ada hal-hal yang serius menyimpang dari yang seharusnya. Aku hanya minta beberapa istilah akun disesuaikan, agar dapat sinkron dengan bahasa akun yang sudah merupakan standar laporan keuangan umumnya. Pak Hendro sangat gembira dengan kesimpulanku. Siang itu dia bersama para eksekutif lainnya mengajak berdarma wisata ke pinggir selat Madura. Di tempat itu, terdapat puluhan warung dan restoran yang menjajakan masakan khas laut, ikan bakar. Sesudah pilih sana dan pilih sini, kami memasuki restoran yang terkenal di daerah itu.

Kami menunggu beberapa saat sambil berbincang kesana kemari, hingga hidangan yang kali ini sangat eksotik dan merangsang perut yang lapar ini tersaji melimpah ruah di meja. Tampak ada ikan kerapu tim, baronang dibakar dengan bumbu Madura, cumi-cumi telor yang dikelilingi daun selada segar, beberapa botol bir, juice tomat, orange juice dan banyak macam lagi. Siang itu kami benar-benar memuaskan dan memanjakan perut kami. Hari itu pada pukul 5 sore, aku baru bisa kembali ke hotel. Aku segera mandi. Kemudian aku memasukkan semua baju perempuan beserta sepatunya.

Untuk malam terakhir di Jalan Irian Barat ini, aku ingin tampil beda lagi. Semua yang pernah kupakai selama 2 malam di jalan Irian Barat itu, akan kuberikan untuk Bella dan teman-teman lain, sebagai kenanganku atas keramahan teman-teman di Jalan Irian Barat itu. Tentu saja aku akan membeli pakaian baru untuk penampilanku malam ini. Dan rencanaku, aku akan memarkirkan mobilku di jalan ini saja. Bella bilang aman kok. Nanti akan ada orang yang menjaganya sampai pagi. Dan aku tidak perlu mondar-mandir untuk urusan parkir dan mobil.

Aku kembali ke butik di Tunjungan Plaza. Aku menjadi sedemikian terobsesinya pada pakaian perempuan. Kali ini aku pilih celana jeans pendek lengkap dengan ikat pinggang kulitnya yang beraksesoris paku-paku, sehingga membuatnya nampak sangat sensual pada penampilanku. Dan aku tampak seperti seorang wanita yang sedang bersafari di gurun Africa yang tengah mencari gerombolan singa untuk sasaran perburuannya. Pasangan atasnya kupilih blus tipis, setengah badan, yang digantungkan ke bahu dengan tali yang kecil lembut. Aku juga membeli wig dengan rambut lurusnya yang jatuh ke bahuku. Untuk sepatunya, aku masih memakai sepatu yang kemarin. Aku menghabiskan 800 ribu rupiah lagi untuk perlengkapan perempuan baruku kali ini.

Pada pukul 9 malam ini, aku sudah kembali turun dari Daihatsuku sebagai Lisa Ramon, yang tampak seperti sedang melakukan safari mencari korban lelaki hidung belang di belantara Irian Barat ini. Ha, ha, ha.., nyamannya hidup ini.. Bella, Angel, Letty dan teman-teman lainnya tampak memperhatikan saat seseorang turun dari Daihatsu sewaanku. Begitu mereka tahu kalau orang itu adalah aku, Bella dan teman-teman langsung menyambutku. Mereka benar-benar telah menjadi sahabatku, sahabat malamku, sahabat Lisa Ramon.

Mereka kembali mengagumi penampilanku, mereka berkata bahwa sebenarnya pakaian yang kupakai tidak terlalu mahal, tetapi saat pakaian itu telah menempel di tubuhku, maka pakaian itu jadi nampak mahal dan yang aku tahu juga adalah bahwa Norman yang biasa-biasa saja, seketika itu juga bisa beralih bentuk, berubah total menjadi Lisa Ramon yang cantiknya bukan main, lengkap dengan segala keanggunan dan lebih-lebih sensualitasnya, yang bisa dipastikan akan mendongkrak libido para lelaki hidung belang yang manapun.

Aku sudah tahu sekarang. Agar tidak menimbulkan perasaan iri atau cemburu antara sesama waria, maka aku tidak akan melayani tamu-tamu yang datang di jam-jam awal ramainya Jalan Irian Barat ini. Aku harus memberikan kesempatan bagi para waria yang lain untuk 'laku' lebih dahulu. Dan bagiku, tidak perlu merasa khawatir, karena keramaian Jalan Irian Barat ini menjanjikan banyak tamu hingga cukup larut malam.

Bella mendekatiku, dia berkata bahwa tadi sore ia telah menerima telepon dari Norma, dan dia ceritakan bahwa pesan salamnya sudah dia terima dari Lisa. Dan Norma mengatakan padanya bahwa ia tidak mengenal dengan seseorang yang bernama Lisa, kemudian Bella menceritakan ciri-ciri postur tubuhku. Akhirnya Norma berteriak di ujung telepon, 'Kurang asem, itu sich temanku si Norman, pengin nge-waria kali. Ya deh, salam balik', demikian cerita Bella yang kemudian dilanjutkannya dengan pertanyaan, 'Benar yaa, kamu Norman?', aku hanya nyengir kuda. Tetapi Bella tidak berhenti disitu, dia pepet tubuhku hingga menuju ke bawah pohon yang gelap dalam bayang-bayang lampu jalan itu. Tangannya meraih selangkanganku, dia remas kontolku, dia mendesah dan minta, ingin mendapat kesempatan untuk memuaskanku. Memuaskan birahiku. Bella meraih tanganku dan dengan serta merta dibawanya tanganku ke selangkangannya. Dia memaksaku untuk merasakan kontolnya, untuk meremasnya. Uuhh.., benar sekali kata Norma, kontol Bella sungguh luar biasa. Aku berada di persimpangan. Bimbang, bingung, dan rasa ingin silih berganti.

'Kalau kamu lagi tidak mood, ya nggak apa-apa Lis, kapan-kapan saja. Walaupun aku sebenarnya sangat ingin nihh..', kata-kata Bella sangat membuatku terharu bercampur nafsu yang telah menyelinap.
'Bell, kita bisa main bertiga nggak?', akhirnya aku berkata.
Tujuan utamaku sebenarnya adalah memuaskan libido, mencoba mencari solusi, dan aku perhatikan ada waria muda sekali di situ, anaknya jangkung, kerempeng, tetapi di mataku nampak sangat sensual.
'Kamu mau bertiga? Dengan siapa..?? Ada yang kamu taksir..? Bisa, nanti kita main di tempat kosku saja beres. Kamarnya ber-AC, ada kulkas, ada kamar mandi sendiri..'.
Wah, hebat juga waria-waria Surabaya ini, pikirku.
'Bagaimana kalau kamu ajak tuh.., tuh.., siapa namanya anak muda itu tuhh..', kutunjuk si jangkung kerempeng yang tidak jauh dari tempatku mengobrol ini.
'Ooo, diaa.., si Nancy, boleh.. n'tar kuomongin dulu yaa..', Bella langsung mendatangi waria muda itu.

Dan malam itu kami bertiga pesta seks. Ternyata body Nancy ini indah sekali. Dia bagaikan anak perawan lugu yang tubuhnya masih 100% mulus, kontolnya tidak terlampau besar, apalagi kalau dibandingkan dengan kontol Bella. Tetapi saat menggenjot mulutku, kontol itu mampu memberikan sensasi tersendiri di dalam mulutku. Spermanya yang muncrat-muncrat di mulutku terasa asin pahit, tetapi kental sekali. Rasanya seluruhnya merupakan lendir pekat yang saat melewati tenggorokanku terasa seperi lendir bergumpal-gumpal yang berkesinambungan. Tenggorokanku mengalami sensasi kenikmatan yang tak terhingga.

Dia juga ngentot pantatku dan meninggalkan spermanya di analku. Dan pada saat aku cebok di kamar mandi Bella, lendir-lendir Nancy itu tak kunjung habis-habisnya. Akan halnya Bella, tidak perlu diragukan lagi, ternyata menurutnya dia sudah sangat horny saat melihatku pertama kalinya pada malam kemarin. Dan pada malam terakhir aku di Surabaya ini, Bella menyalurkan nafsu birahinya habis-habisan, untuk memberikan kepuasan padaku, dan sekaligus untuk meraih kepuasannya sendiri. Dia jilat lubang pantatku, dia jilat spermaku yang tercecer di lantai, di sprei, di paha Nancy, bahkan di pantat Nancy.

Dia menumpahkan spermanya 2 kali ke mulutku dan sekali ke lubang analku. Kami beriga mendapatkan kepuasan yang akan selalu menjadi kenangan bagi kami. Spermaku sendiri sempat 2 kali tumpah. Nancy dan Bella menunggu kesempatan itu. Saat aku hendak memuncratkan spermaku, mulut mereka menganga di depan kontolku. Kukeluarkan spermaku dengan kocokan. Dan saat spermaku muncrat, mereka saling berebut untuk menadahinya. Sebagian yang tercecer di dagu atau pipi Bella, dengan rakus dijilati oleh Nancy dan demikian pula sebaliknya, sperma yang muncrat di dagu, pipi dan dada Nancy, dengan rakusnya dijilati oleh Bella.

Sungguh 3 malam yang indah bagiku selama bertugas di Surabaya. Ini adalah hari terakhirku, seharusnya aku sudah di atas KA BIMA malam ini, tetapi aku tunda. Aku akan pulang menggunakan pesawat Garuda saja esoknya. Pada Norma, sekembalinya aku dari Surabaya, kuceritakan pengalamanku, dia mendengarkannya dengan takjub. Dia mendengarkannya sambil tangannya menggerayangi kontolku. Sambil kedua tangannya mengocok-ngocok kontolku. Dia mendengarkannya sampai menelan spermaku yang muncrat di mulutnya, sebagaimana yang telah biasa diterima dan dilakukannya, Norma adalah waria peminum spermaku yang setia.

Jakarta, April 2003,

Teriring salam untuk Bella dan seluruh komunitas waria di Jalan Irian Barat, Surabaya

TAMAT

0 comments:

Post a Comment