Home » » Seminggu full waria, duh nikmatnya - 2

Seminggu full waria, duh nikmatnya - 2

Ternyata ada kejutan buat aku. Begitu masuk ke pondok mereka langsung saling berpagutan. Ah, rupanya mereka ini biseks atau gay. Mereka lakukan itu tanpa ragu di depanku. Tetapi aku sendiri yang juga punya selera berbagai jenis, sangat terangsang melihat mereka berdua berasyik masyuk. Naluriku tak bisa tinggal diam. Aku mendekat dan tangan-tanganku menjamah celana mereka. Aku meremasi kemaluan yang telah sama-sama ngaceng di balik celana-celana mereka.

Ah.., ternyata kami bisa saling mengisi. Kami bertiga langsung larut dalam arus birahi yang mengalir begitu saja. Layaknya para pemain musik jazz, dengan penuh 'improvisasi' kami meluncur dengan begitu lancar memainkan peran masing-masing.

Mereka yang berdiri demikian asyiknya berpagutan, aku yang jongkok kelantai mulai membuka kancing-kancing celananya. Aku membetot penis-penis mereka dari tempatnya. Aku mendapatkan batang-batang kemaluan lelaki yang mendendam syahwatnya. Kedua penis itu demikian tegang dan berkilatan kepalanya. Kedua penis itu hampir semua luar biasa ukurannya. Diatas rata-rata ukuran orang Indonesia.

Sungguh menjadi serba ideal bagiku. Aku tak tahan lagi untuk tidak melumatinya. Aku mulai mencium dan menjilati salah satunya, sementara tanganku mengelus atau mengocoki kemaluan lainnya. Duuhh.. Asyiknyaa..

Terus terang aku sungguh nikmat malam pertama di Surabaya ini. Ketika telah puas saling berciuman kini mereka mulai memberikan perhatiannya padaku. Arman menyapu kepalaku sambil meremas-remas rambutku. Sementara Omen menyusul jongkok. Dia ingin kebagian ikut menciumi kemaluan Arman. Kami berbagi. Omen berhadapan denganku untuk sama-sama melepaskan jilatan dan ciuman pada penis Arman.

Sesekali aku menyambar mulutnya. Aku pengin banget melumat bibir tebalnya itu. Kami saling berpagut sambil tetap mengurut-urut kemaluan Arman. Pada gilrannya Arman menarik tanganku untuk berdiri. Dia menjemput bibirku. Kami berpagutan pula sementara Omen melanjutkan kuluman pada kemaluan Arman. Kurasakan tangan Omen menyingkap gaunku dan menarik turun CD atau celana dalam-ku. Dia meraih kemaluanku yang juga sudah ngaceng banget.

"Uuhh.. Gede banget penismu, Lisa.. Uuuhh.. Hhllmm.. ", dia menyeru dan langsung mulutnya menerkam dan melumat batangku.

Mendengar ucapan Omen, Arman nampak penasaran. Dia menurunkan bibirnya. Dia menjilati leherku kemudian pundak dan dadaku. Dia juga mendorong bergeser untuk mendekat ke ranjang. Tangannya berusaha menggapai kemaluanku yang sedang dalam lumatan temannya. Akhirnya kami sama-sama rubuh ke ranjang. Disini kami terhenti sesaat.

Rupanya itu semua tadi sekedar 'intro' atau pemanasan. Omen bangkit dari ranjang menuju ke pesawat telpon.

"Mau pesan makanan dan minuman apaan, nih?", dia nyambung ke room service.

Untuk sementara kami saling menahan diri. Sambil menunggu datangnya makanan dan minuman kami memakai kembali apa-apa yang telah lepas dari tubuh kami. Namun saat aku hendak mengambil CD-ku, Arman lebih cepat meraihnya. Dia tersenyum-senyum mengamati celana dalamku. Kemudian sambil mendongakkan leher dan menutup matanya dia mendekatkan ke wajahnya dan menciuminya. Ahh, mau apa aku?

Omen mentertawakan ulah Arman tetapi kemudian merebutnya. Dia juga menciumi celana itu. Dia bilang CD Lisa yang cantik ini sangat harum baunya. Aku sungguh sangat tersanjung oleh ulah kedua orang itu.

Datanglah saat makan. Di meja nampak penuh jenis makanan dalam menu oriental. Ada sup kepiting yang nampak sangat enak dan berbagai sayur serta lauk pauk. Untuk minumannya disamping beberapa gelas air mineral Omen juga pesan 3 botol bier besar. Bukan main. Kami pesta besar, nih.

Nah.., ternyata kelakar erotis mereka belum usai. Masih berkisar celana dalamku. Omen memungut CD-ku yang tergeletak di ranjang dan tidak sempat kubenahi. Dia ceburkan CD itu ke mangkuk sup kepiting yang sangat enak itu. Sendoknya dia gunakan untuk menekan-nekan hingga tenggelam kemudian mengaduk-adukkan dalam kuahnya,

"Ah, nikmatnya sup kepiting campur CD Sharon", sambil bibirnya nyengir dalam senyuman.

Arman nampak tak acuh saja. Dia sendok sup itu ke piringnya dan makan dengan lahapnya. Begitu juga Omen. Dan aku? Yaa.. Aku ngikut saja.., toh celana dalam-ku sendiri.

Malam itu mereka benar-benar ingin santai. Nampaknya tidak dikejar-kejar waktu. Dalam hal syahwatpun Omen dan Arman nampak tenang, tidak terburu-buru dan dengan sepenuhnya menikmati apa yang sedang berlangsung.

Sehabis makan kami merokok dan ngobrol sambil menghabiskan bir besar kami pelan-pelan. Terus terang aku tak biasa minum bir. Walaupun tidak mabok, aku jadi kebelet kencing. Aku pengin banget ke toilet. Aku berdiri dan melangkah ke sana.

Arman menyapa, "Ngapain Lis?",
Yang aku jawab dengan apa adanya bahwa aku pengin kencing.
"Ikut!", sambung Arman,
"Aku juga ikut!', sergah Omen.
"Apa lagi, nih??", batinku setengah heran bertanya. Orang mau kencing, koq ikut?!

Mungkin mereka ingin menonton kemaluanku yang dibilang gede sama Omen tadi. Begitu pancuran kencingku yang terarah ke bibir kloset mancur, Arman memutar pinggulku dan kemudian jongkok. Karuan saja air kencingku berceceran ke lantai dan bahkan ke muka dan tubuh dia.

Tetapi memang itu yang dia kehendaki. Bahkan lebih dari itu. Dia membuka mulutnya untuk menadahi air kencingku. Dan glek, glek, glek.. Air kencing bening dengan warna pekat kuning yang mancur keluar dari kemaluanku itu dia minum dengan rakus penuh kehausan. Oowww.. Sungguh surprise bagiku. Kembali perasaan tersanjungku mengembang melihat tingkah Arman ini.

Omen mengambil bagiannya. Dia mendekat ke Arman. Dia ciumi tubuh Arman. Dia jilati dan minum air kencingku yang basah mengalir di tubuh kawannya itu. Bahkan Arman kini duduk ke lantai untuk memudahkan Omen melaksanakan keinginannya. Kemudian sebelum habis kencingku, Omen juga meraih penisku. Dia masukkan ke mulutnya sementara pancuran kencingku masih mengalir deras. Dia meneguknya sambil membiarkan sebagian lainnya tercecer ke tubuhnya pula. Ahh.., mereka berdua yang nampak begitu menikmati dan minum air kencingkuu..

Sesudah itu kami melanjutkan keasyikan penuh erotisme ini. Arman meminta aku menghadap ke cermin membelakanginya. Dia sosorkan mulutnya ke belahan pantatku. Dia mencium dan menjilati analku. Sementara itu Omen bangkit untuk meraih bibirku. Kami berpagutan. Lidah Omen menyeruak ke mulutku. Kami bertukar ludah. Omen meraih tanganku agar meremasi penisnya yang luar biasa itu.

Duuhh.. Sungguh sangat sensasional. Sementara di mulut lidah Omen si pria ngganteng ini dalam lumatanku, di bawah tanganku mengelusi batang penis gedenya yang hangat dan kenyal itu. Dan di belahan pantatku, aku merasakan lonjakan rangsangan syahwat birahiku karena Arman si pria ganteng lainnya demikian asyik berusaha menjiltai lubang pantatku.

Berikutnya, Arman mengalihkan perhatian. Dia bergeser ke antara aku dan Omen. Dia raih kemaluanku yang telah tegang sejak awal tadi. Dengan sepenuh nafsunya dia jilatkan lidahnya melata ke pangkal dan batang penisku. Dia cium, sedot dan lumati bijih pelirku.

Kepalanya bergerak naik turun menanjaki batang kemaluanku yang tegak berdiri ini. Dan saat mulutnya mulau menelan batang penis, aku tak mampu menghindarkan getaran birahiku. Aku mendesah keras,

"Acch.. Hhuucchh.. Hhaacch.. ". Tanganku melepaskan remasan penis Omen berganti meremasi rambut Arman untuk menahan kegatalan yang amat yang menyerang nafsu birahiku.

Aku juga sedikit menggoyang-goyang maju mundur pantatku. Aku berusaha menusuk-nusukkan kemaluanku ke bibir Arman. Omen menyusul menggeser sasarannya. Bibirnya turun menelusuri bukit dadaku. Dia mencaplok dan mengenyot-enyot puting susuku. Menggigit kecil dadaku dan kemudian seputar tulang rusukku. Woowww.. Aku jadi begini menggelinjang.

Aku bergetar merasakan serangan dua orang berkawan ini. Mereka sangat kompak menyatu yang membuat syahwat birahiku naik ke ubun-ubunku. Aku menahan diri untuk tidak berbuat menyimpang dari mereka yang sedang terhanyut oleh pukau tubuhku ini. Aku mengikuti saja gairah macam apa yang sedang mengalir pada birahi mereka.

Ciuman Omen terus meluncur turun. Kini Arman dan Omen seakan memperubutkan penisku. Mereka saling berhadapan untuk menciumi dan melumat-lumat kemaluanku ini. Terdengar dua nafas berat yang memburu. Aku menyandarkan diriku ke meja toilet.

Arman dan Omen seperti anak lembu yang sedang berebut payudara induknya. Mereka saling bergantian menyosori kemaluan dan bijih pelir di antara selangkanganku. Aku kini yang mulai tak tahan terhadap syahwat yang melandaku dengan hebatnya. Aku mulai merasakan kegatalan dan hasrat birahi yang luar biasa di seputar selangkanganku.

Pemandangan erotis yang disuguhkan kedua sahabat pada selangkanganku ini membuat aku nafsu syahwatku terus menanjak dan membara. Aku perlu pelampiasan. Aku bergerak dan bergeser tanpa memutus tingkah Omen dan Arman pada bagian-bagian tubuhku. Aku menuntun keluar dari kamar mandi menuju ke ranjang.

Kembali seperti anak lembu, Omen dan Arman terus mengikuti geseranku tanpa melepas sosorannya pada kemaluan dan bijih pelirku. Begitu menyentuh tepian ranjang aku langsung rebah ke kasur. Kedua teman, Arman dan Omen langsung merentang pahaku. Kehausan anak-anak lembu ini belum juga usai. Mereka kembali menyosori kemaluanku.

Namun Omen mulai bergeser. Dia menciumi selangkanganku. Menyedot dan menggigit-gigit lembah pahaku. Menjilati pori-pori pahaku.

"Ddiihh.., mmaass.. Ampuunn.. Lisa nggak tahan niihh.. ", aku mulai memperdengarkan desahan dan rintihan.

Nampak kedua sahabat ini terpacu oleh desahan dan rintihanku itu. Tanganku kembali meremasi rambut-rambutnya. Rasanya di seputar selangkangan dan pahaku telah basah kuyup oleh ludah-ludah mereka. Tiba-tiba aku merasa ditinggalkan.

Aacchh, benar..

Saat aku menengok kulihat Omen dan Arman berasyik masyuk sendiri. Mereka saling pagut di kesempitan celah selangkanganku. Tangan-tangan mereka juga saling meremasi. Nampak mereka begitu tenggelam dalam nikmatnya mengumbar birahi.

Aku jadi pengin mengamati mereka. Aku bergeser dan bangkit. Saat nampak jelas kelakuan mereka, aku terpengaruh untuk 'joint'. Aku kembali rebah ke kasur, tetapi kali ini dengan setengah nungging ke arah yang berlawanan. Kepalaku rebah ke kaki-kaki mereka dan pantatku di atas kepala mereka.

Sementara mereka masih asyik berpagut kuraih kaki Omen yang penuh bulu itu. Aku ciumi dan gigiti betisnya. Bulu-bulunya kulumat dalam olahan cermat lidahku. Omen langsung menggelinjang. Seakan mau ditariknya kakinya, tetapi tak juga untuk dilepaskan dari lumatanku. Dia menikmati apa yang kulakukan padanya. Dia elusi kepalaku.

Kemudian kulakukan yang sama pula pada kaki Arman. Reaksi Arman sama dengan Omen. Dia elusi rambut-rambutku sambil memperdengarkan desahannya. Dari betis-betis ciumanku merambah ke paha mereka. Aku sangat menikmati pori-pori paha kedua sahabat itu. Aku juga menikmati betapa bau ke-lelaki-annya begitu merangsang dengan kuat dari paha dan kemudian selangkangan mereka.

Yang terjadi berikutnya adalah Omen yang bangkit dari kasur.Dengan merangkak dia bergeser dan mendekati aku dari belakang kemudian meraih bokongku. Beberapa saat dia memuaskan dirinya dengan menciumi pantatku. Lidahnya menjilati anusku.

Jangan tanya betapa nikmat yang menerpaku. Aku dibuatnya menggeliat-geliat tak terkendali. Lidahnya yang seakan menusuki pantatku mendongkrak hasrat birahiku. Aku menjerit kecil menahan nikmat yang mendera. Kemudian Omen bangkit seperti anjing jantan. Dia menomplok aku sebagai betinanya. Dia ingin melakukan penetrasi.

Aku langsung merasakan kegelian erotik saat penisnya menyentuh bibir anusku dan mendorong-dorongkannya. Diawali rasa pedih dan panas penis Omen berhasil menembusi lubang duburku. Saat memompa, aku mulai merasakan betapa nikmatnya kemaluan yang gede ini menyeruak di dalam lubang anal ini. Aku mendesah ketagihan.

Aku ingin kenikmatan ini tak pernah berhenti. Aku ikut menggoyang pantatku. Aku ingin tusukkan itu lebih masuk menyeruak ke dalam lagi. Tetapi ternyata tak lama..

Sesudah semburan panas kurasakan di dalam anusku kulihat Omen lunglai dan rebah ke kasur.Ahh.. Dia telah meraih kepuasan puncaknya. Kurasakan ada cairan kental lengket pada bibir analku.

Bersambung...

0 comments:

Post a Comment