Home » » Pesta lesbi - 3

Pesta lesbi - 3

Tanpa menunggu persetujuan Anita, tangannya sudah memegang tangan kanan Anita dan diremaskannya ke payudara kirinya. Tangan kiri Anita dengan sendirinya membelai paha Angga dan bibirnya dengan pelan mendarat di bibir Angga. Keduanya berciuman dan saling perang antar lidah. Tangan Angga melepas kancing baju seragam yang dipakai Anita. Anita menghentikan ciuman dan belaiannya pada paha Angga. Dia melepas baju seragamnya. Kemudian mengangkat daster kaos yang dipakai Angga sampai terlihat kedua payudaranya. Dibelainya payudara kanan Angga. Angga pun melepasdaster kaosnya sehingga Anita dengan leluasa menghisap payudara kiri Angga sambil tetap membelai payudara kanannya.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Tangan Anita menghentikan belaiannya pada payudara kanan Angga. Dan kini dihisapnya payudara kanan Angga sambil dia melepas kaos dalam dan BH yang masih dipakainya. Dia lalu menelentangkan Angga dan menindihnya sehingga kedua payudara mereka saling menempel. Kedua puting payudara mereka saling digesekkan. "Ouohh.."

Setelah beberapa lama saling menggesekkan kedua payudara. Anita kemudian menggeser tubuhnya ke samping Angga sambil tetap tengkurap. Dilepasnya rok seragam yang masih dipakainya dan tidak ketinggalan celana dalamnya. Angga juga melepas celana dalamnya dan duduk sambil membelai punggung Anita. Dia kemudian menggesek-gesekkan kedua payudaranya ke punggung Anita. Anita lalu ikut duduk dan mereka berdua saling membelai kedua payudara. "Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Anita menceritakan bahwa semalam dia yang baru pulang dari berbelanja keperluan sekolahnya. Dia melewati kamar Widya dan tanpa sengaja melihat Widya dan Susan berpelukan erat sambil berciuman. Kedua payudara mereka saling menempel. Kedua kemaluan mereka juga saling menempel. Mereka berdua saling membelai punggung dengan halus. Mereka berdua saling mengocok lubang pantat dengan jari telunjuk tangan kanan. Angga terangsang dengan cerita Anita dan kini mereka berdua sudah saling menjatuhkan. Anita kalah dan kemaluannya langsung digarap oleh Angga. Dia menungging dan dikangkangnya kaki Anita. Mulutnya tepat pada kemaluan Anita. Lidahnya dikeluarkan. Disentuhkannya ujung lidahnya ke kemaluan Anita berulang-ulang.

Sekarang Angga sudah menjilati liang kemaluan Anita sambil jari telunjuk tangan kirinya membuka lubang kemaluan Anita. Lidahnya dimasukkan ke dalam celah lubang kemaluan Anita. Lidah Martha sudah merasa puas bermain-main di kemaluan Anita. Sekarang jari-jarinya dikeluar-masukkan ke dalam lubang kemaluannya. Dikocoknya pelan-pelan. Mulut Angga rupanya belum puas dan ikut membantu jari-jari Angga dalam mempermainkan lubang kemaluan Anita. Berkali-kali Anita mendesah. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Kini puting payudara kiri Angga digesek-gesekkan ke kemaluan Anita. Kedua tangannya juga meremas kedua payudara Anita bekerja sama dengan kedua tangan Anita. "Aaahh.. aahh.. aahh.." Akhirnya Angga menghentikan permainannya. Dia berdiri dan Anita juga ikut berdiri. Angga membungkukkan badannya dan berpegangan pada kursi. Kakinya dikangkangkan. Anita tahu maksudnya. Dia merebahkan tubuhnya tepat di bawah tubuh Angga. Kedua tangannya kemudian meremas kedua payudara Angga. Kemudian kedua tangannya menuju lubang kemaluan Angga. Jari telunjuk tangan kirinya membuka lubang kemaluan Angga. Kemudian jari-jarinya dikeluar-masukkan ke dalam lubang kemaluannya. Dikocoknya pelan-pelan. Jari-jarinya juga dikeluar-masukkan ke dalam lubang pantat Angga. "Aaahh.. aahh.. aahh.." Pelan-pelan tubuh Angga turun ke bawah dan lubang kemaluannya tepat di lubang kemaluan Anita. Dia menindihi Anita. Tetapi mereka berdua tidak melakukan apa-apa. Kemudian Angga berdiri dan duduk di kursi. Anita juga ikut berdiri.

"Sini Nit.!"
Anita kemudian menghampiri Angga. Angga membimbing Anita untuk duduk di pangkuannya dengan posisi terbalik. Mereka berdua berpelukan erat sambil berciuman. Kedua payudara mereka saling menempel. Kedua kemaluan mereka juga saling menempel. Setelah beberapa lama Anita bangkit dari pangkuan Angga. Dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Angga ingin menghampirinya. Tetapi mereka berdua serentak membenahi pakaiannya ketika mendengar suara mobil masuk ke dalam asrama.

KISAH IBU ANA

Ibu Ana berusia 37 tahun dengan ukuran payudara 42 dan tubuh yang ideal. Dia seorang ibu rumah tangga yang mengelola asrama putri yang didiami oleh Widya, Susan, Anita dan Angga. Ibu Ana menjadi lesbian karena Anita. Ketika suatu siang dia ke asramanya dan diterima oleh Anita yangbaru saja bercumbu dengan Angga. Dia memakai daster kaos milik Angga.
"Mari Bu!" kata Anita mempersilakan Ibu Ana duduk.
"Bagaimana kabar anak-anak sini," sambil dia duduk di sofa panjang.
Anita kemudian menceritakan keadaan teman-teman satu asramanya. Tiba-tiba Angga muncul.
"Maaf Bu, saya mau pergi," kata Angga.
"Silahkan," jawab Ibu Ana.

Ketika itu Anita tanpa sengaja melihat kedua payudara Ibu Ana yang masih ditutupi pakaiannya.
"Ada apa Nit?" tanya Ibu Ana.
"Tidak apa-apa Bu," jawab Anita.
"Ibu darimana?" sambung Anita.
"Berbelanja."

Ibu Ana lalu mengeluarkan beberapa barang dari tas plastik dan diletakkan di meja. Barang-barang itu memang disediakan Ibu Ana setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di asramanya. Kebetulan Ibu Ana memperoleh menjadi anggota dari sebuah agen produk kecantikan. Anita tertarik pada sebuah barang yang setelah dikeluarkan dari tas plastik tidak diletakkan di meja tetapi dimasukkan ke tas kecilnya.

"Itu apa Bu?"
"Ini buat Ibu."
Diserahkannya sebuah botol kecil ke Anita. Sebuah cream untuk membantu memperbesar dan memperindah payudara.
"Jadi ini ya? Yang membuat payudara ibu jadi besar itu. Saya mau Bu."
"Itu buat kamu saja. Nanti Ibu beli lagi."
"Caranya bagaimana Bu?"
"Tinggal diusap saja di payudaramu."
"Beri contoh Bu."
"Malu saya kalau.." Ibu Ana menghentikan perkataannya.
"Malu apa Bu?"
Ibu Ana hanya diam.
"Malu telanjang ya?"
Ibu Ana hanya menggangguk.
"Kenapa malu Bu. Ibu harus bangga mempunyai payudara besar. Atau begini saja Bu. Kalau Ibu malu, aku juga lepas pakaian. Jadi kita sama-sama malu."

Ibu Ana ingin mencegah Anita melepas pakaiannya. Terlambat. Anita sudah melepas daster kaos yang dipakainya.
"Ibu curang. Kenapa tidak lepas pakaian? Aku yang lepas ya Bu?"
Anita menghampiri Ibu Ana yang setengah menghindar untuk dilepas pakaiannya. Tetapi akhirnya Anita berhasil melepas kaos ketat termasuk BH yang dipakai Ibu Ana. Dibelainya kedua payudara Ibu Ana. Ibu Ana sendiri juga membelai kedua payudara Anita.
"Payudaramu juga indah."
"Tetapi tidak besar Bu. Bagaimana cara menggunakan cream ini Bu?"
Ibu Ana menghentikan keasyikannya membelai kedua payudara Anita. Dia mengambil botol cream tersebut.

Dibukanya dan diambil sedikit. Diusapkannya cream tersebut ke payudara kirinya. Diratakan dan diremas-remas. Anita mengikutinya. Tetapi tidak ke payudaranya. Diambilnya sedikit cream dan diusapkan ke payudara kanan Ibu Ana. Anita melakukannya dengan gairahnya yang memanas. Ibu Ana ingin menghindar. Tetapi dia merasakan bahwa remasannya lebih nikmat dari remasan suaminya sendiri. Dia mendiamkan Anita meremas kedua payudaranya. Dia bahkan menikmatinya dan ikut meremas kedua payudara Anita tanpa memakai cream. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Keduanya berpandangan dan tersenyum. Anita kemudian memegang kepala Ibu Ana dan diletakkan di payudara kirinya. Entah mengapa, seolah-olah sudah pernah melakukan. Bibir Ibu Ana menghisap payudara kiri Anita. Tangannya membelai dan meremas payudara kanan Anita. Kemudian Ibu Ana merasa puas dan kemudian merebahkan tubuhnya ke sofa panjang tersebut sambil kakinya masih di bawah. Anita mengangkat kaki Ibu Ana ke atas kemudian dia menduduki paha Ibu Ana bagian atas. Diremasnya kedua payudara Ibu Ana sambil memilin-milin puting payudara kanan Ibu Ana. Tangan Ibu Ana tidak tinggal diam. Dia ingin juga meremas kedua payudara Anita. Tetapi Anita pintar menghindar sehingga Ibu Ana setengah jengkel hanya bisa membelai punggung Anita.

Tidak lama setelah itu Ibu Ana mendorong punggung Anita sehingga tubuh Anita menindih tubuh Ibu Ana. Kedua payudara mereka saling menempel. Kemudian mereka saling menggesek-gesekkan puting kedua payudara. Keduanya sama-sama mengeluarkan suara.
"Ouohh.."
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Anita duduk lagi dan membersihkan cream yang menempel di kedua payudaranya gara-gara didorong Ibu Ana. Ibu Ana membantu membersihkan tetapi tidak sekedar membersihkan. Diremasnya payudara kanan Anita dan sekaligus memilin puting payudaranya. Anita selesai membersihkan cream di kedua payudaranya dan lalu membersihkan kedua payudara Ibu Ana. Setelah selesai, Anita memegang kedua tangan Ibu Ana yang asyik mempermainkan kedua payudaranya. Diletakkannya kedua tangan Ibu Ana ke pundaknya dan mendorong sendiri tubuhnya menindih Ibu Ana kembali. Kembali kedua payudara mereka saling menempel. Keduanya kembali sama-sama mengeluarkan suara."Ouohh.."

Kemudian Anita duduk lagi dan mengambil sebuah botol yang ada di meja. Botol tersebut mirip sebuah penis. Disentuhkannya botol tersebut ke bibir Ibu Ana. Ibu Ana yang telah mencapai puncak kenikmatan berusaha mencoba untuk menghisap botol tersebut. Tetapi Anita sengaja hanya menyentuhkannya. Dia menarik botol tersebut dengan lembut turun ke bawah melalui leher danakhirnya sampai diantara kedua payudara Ibu Ana. Botol tersebut digesek-gesekkan turun-naik dan Ibu Ana mengimbangi dengan memegang kedua payudaranya. Dijepitnya botol tersebut dengan kedua payudaranya sedangkan Anita masih terus menggesek-gesekkannya secara turun-naik. Tangan kanannya membelai kedua payudara Ibu Ana bergantian. Anita menghentikan gesekannya dan botol tersebut kini pindah ke payudara kanannya. Disentuhkannya botol tersebut mengelilingi payudara kanannya dilanjutkan dengan aksi botol tersebut mengelilingi payudara kirinya. "Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Ibu Ana hanya melihat, dan setelah Anita selesai dengan permainannya, dia memegang tangan Anita yang memegang botol tersebut. Didorongnya botol tersebut ke mulutnya. Anita lalu mengeluar-masukkan botol tersebut sambil salah satu tangannya dibimbing oleh kedua tangan Ibu Ana untuk meremas kedua payudaranya. Setelah beberapa lama, Anita lalu mengeluarkan botol tersebut dan botol tersebut yang basah diusapkan ke payudara kirinya. Kemudian botol tersebut diletakkan ke meja kembali. Ibu Ana yang melihat payudara kiri Anita basah lalu membersihkan dengan belaian tangannya yang lembut. Kembali mereka terlena dengan belaian-belaian yang menggairahkan dilanjutkan dengan saling meremas.

Setelah puas saling meremas kedua payudara, Anita lalu menyentuhkan kedua puting payudaranya ke kedua puting payudara Ibu Ana. Pelan-pelan dia turun menindihi Ibu Ana sehingga kedua payudara mereka saling menempel. "Ouohh.."

Tidak puas begitu saja, keduanya kemudian melanjutkan permainan binal tersebut hingga titik kenikmatan penghabisan. Sungguh Nikmat hidup ini.

TAMAT

0 comments:

Post a Comment